Minggu, 13 November 2016

Pura Pasek Karangpandan

Pura Pasek di Karangpandan - Karangnyar


di olah dari berbagai sumber soal Pura Pasek, Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.


Pura Pasek
Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.  Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).
Piodalan di pura Pemacekan ini biasanya diselenggarakan setiap tujuh bulan saat bulan purnamasidi atau bertepatan dengan pengetan weton dari Ki Ageng Pasek yang mana Upacara Piodalan ini selain di rayakan oleh para pengempon Pura umat Hindu di karanganyar serta daerah Solo dan sekitarnya yang khususnya bermarga Pasek juga dihadiri oleh ratusan warga Hindu Bali dari marga Pasek juga.  Salah seorang Pengempon Pura Pasek ini adalah juga warga dari Desa Kemoning Klungkung yang berdomisili di Solo, yaitu bapak Nyoman Nasa, dalam menjalani masa-masa pension beliau, selalu mengabdikan hari-harinya merawat Pura Pasek ini.
Menghubungkan cerita Pura Pasek yang ada di tanah Jawi ini dengan issue-issue yang berkembang belakangan ini di daratan bali, dimana seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di Bali, akhirnya menumbuhkan keingintahuan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal-usul  nenek moyang atau leluhur keluarga mereka, yang di mulai tidak hanya ketika leluhur mereka berdomisili di balidwipa (pulau bali), melainkan di telusuri lebih jauh ketika nenek moyang mereka masih berdomisili di jawadwipa (pulau jawa) ketika kerajaan majapahit masih mengalami masa kejayaannya. penelitian oleh setiap individu mengenai silsilah keluarga / kelompok ini kemudian di tuliskan kedalam suatu babad, sehingga akhirnya di Bali saat ini dikenal berbagai macam Babad.  seperti di tuliskan di website babadbali.com (http://www.babadbali.com/babad/babadbali.htm ) yaitu:
Lebih lanjut, menelusuri silsilah keluarga sedari nenek moyang baik dengan pergi ke tanah jawi atau melalui membaca babad yang di tulis orang lain, di bali saat ini sepertinya sedang menjadi trend. Salahkah kegiatan mereka ini, tentu tidak. kegiatan untuk mengetahui silsilah keluarga leluhur mereka, disamping akan menambah wawasan dari setiap pembacanya, membaca babad ini juga di khawatirkan sebagian orang akan memisahkan masyarakat bali menjadi kelompok-kelompok (soroh / clan) karena menemukan silsilah dirinya dalam babad.  kekhawatiran yang berlebihan ini mungkin masih dianggap wajar, hal ini untuk menghindarkan terulangnya fenomena masyarakat bali dari penafsiran yang berbeda-beda akan suatu konsep kehidupan bermasyarakat. sebagai contoh penafsiran akan keberadaan sistem wangsa di dalam kehidupan sosial kemasyarakat umat Hindu di Bali. dimana kalau menurut Manawa Dharmasastra, sistem wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial paradigma tinggi-rendah (tidak setara antara wangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra, melainkan sistem wangsa itu di buat untuk menentukan keakraban atau kerukunan famili, dan bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang. kita harapkan semoga masyarakat bali tidak terjerumus akan pemahaman yang sempit akan Babad ini. Kembali ke topik Babad, untuk apa sesungguhnya fungsi keberadaan Babad itu atau untuk apa Babad itu di tulis?  pada prinsipnya Babad itu adalah sejarah. Babad atau sejarah di tulis untuk melihat perjalanan sebuah peradaban. Dari penulisan ini kita menjadi tahu, siapa tokoh yang memainkan peran dalam peradaban itu.
Mengambil contoh dari salah satu Babad diatas yaitu Babad Pasek, umat Hindu dari seluruh pelosok daratan Bali yang bermarga Pasek, belakangan ini tidak hanya melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Dasar Gelgel Klungkung yang di yakininya sebagai induknya Pura Pasek di Bali , melainkan juga melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Patilesan (peristirahatan) Ki Ageng Pemacekan yang oleh masyarakat Bali di yakininya sebagai induknya Pura Pasek – pura Pasek yang ada di Bali,  dan belakangan ini selalu menunjukkan statistik yang kian terus meningkat bila di lihat dari jumlah kendaraan bis rombongan dari bali.
Akhir kata, seandainya ada pembaca artikel ini yang bermarga Pasek yang tertarik untuk melakukan wisata spiritual Tirta Yatra ke Pura Pasek yang ada di Jawa ini, berikut alamat detailnya: Pura Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

di olah dari berbagai sumber soal Pura Pasek, Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.


Pura Pasek
Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII.  Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).
Piodalan di pura Pemacekan ini biasanya diselenggarakan setiap tujuh bulan saat bulan purnamasidi atau bertepatan dengan pengetan weton dari Ki Ageng Pasek yang mana Upacara Piodalan ini selain di rayakan oleh para pengempon Pura umat Hindu di karanganyar serta daerah Solo dan sekitarnya yang khususnya bermarga Pasek juga dihadiri oleh ratusan warga Hindu Bali dari marga Pasek juga.  Salah seorang Pengempon Pura Pasek ini adalah juga warga dari Desa Kemoning Klungkung yang berdomisili di Solo, yaitu bapak Nyoman Nasa, dalam menjalani masa-masa pension beliau, selalu mengabdikan hari-harinya merawat Pura Pasek ini.
Menghubungkan cerita Pura Pasek yang ada di tanah Jawi ini dengan issue-issue yang berkembang belakangan ini di daratan bali, dimana seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di Bali, akhirnya menumbuhkan keingintahuan untuk menelusuri lebih jauh tentang asal-usul  nenek moyang atau leluhur keluarga mereka, yang di mulai tidak hanya ketika leluhur mereka berdomisili di balidwipa (pulau bali), melainkan di telusuri lebih jauh ketika nenek moyang mereka masih berdomisili di jawadwipa (pulau jawa) ketika kerajaan majapahit masih mengalami masa kejayaannya. penelitian oleh setiap individu mengenai silsilah keluarga / kelompok ini kemudian di tuliskan kedalam suatu babad, sehingga akhirnya di Bali saat ini dikenal berbagai macam Babad.  seperti di tuliskan di website babadbali.com (http://www.babadbali.com/babad/babadbali.htm ) yaitu:
Lebih lanjut, menelusuri silsilah keluarga sedari nenek moyang baik dengan pergi ke tanah jawi atau melalui membaca babad yang di tulis orang lain, di bali saat ini sepertinya sedang menjadi trend. Salahkah kegiatan mereka ini, tentu tidak. kegiatan untuk mengetahui silsilah keluarga leluhur mereka, disamping akan menambah wawasan dari setiap pembacanya, membaca babad ini juga di khawatirkan sebagian orang akan memisahkan masyarakat bali menjadi kelompok-kelompok (soroh / clan) karena menemukan silsilah dirinya dalam babad.  kekhawatiran yang berlebihan ini mungkin masih dianggap wajar, hal ini untuk menghindarkan terulangnya fenomena masyarakat bali dari penafsiran yang berbeda-beda akan suatu konsep kehidupan bermasyarakat. sebagai contoh penafsiran akan keberadaan sistem wangsa di dalam kehidupan sosial kemasyarakat umat Hindu di Bali. dimana kalau menurut Manawa Dharmasastra, sistem wangsa dalam masyarakat Bali bukanlah untuk menentukan stratifikasi sosial paradigma tinggi-rendah (tidak setara antara wangsa yang satu dengan wangsa yang lainnya). Wangsa itu tidak menentukan seseorang itu Brahmana, Ksatria, Waisya maupun Sudra, melainkan sistem wangsa itu di buat untuk menentukan keakraban atau kerukunan famili, dan bukan untuk menentukan kasta atau varna seseorang. kita harapkan semoga masyarakat bali tidak terjerumus akan pemahaman yang sempit akan Babad ini. Kembali ke topik Babad, untuk apa sesungguhnya fungsi keberadaan Babad itu atau untuk apa Babad itu di tulis?  pada prinsipnya Babad itu adalah sejarah. Babad atau sejarah di tulis untuk melihat perjalanan sebuah peradaban. Dari penulisan ini kita menjadi tahu, siapa tokoh yang memainkan peran dalam peradaban itu.
Mengambil contoh dari salah satu Babad diatas yaitu Babad Pasek, umat Hindu dari seluruh pelosok daratan Bali yang bermarga Pasek, belakangan ini tidak hanya melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Dasar Gelgel Klungkung yang di yakininya sebagai induknya Pura Pasek di Bali , melainkan juga melakukan Tirta Yatra persembahyangan bersama ke Pura Patilesan (peristirahatan) Ki Ageng Pemacekan yang oleh masyarakat Bali di yakininya sebagai induknya Pura Pasek – pura Pasek yang ada di Bali,  dan belakangan ini selalu menunjukkan statistik yang kian terus meningkat bila di lihat dari jumlah kendaraan bis rombongan dari bali.
Akhir kata, seandainya ada pembaca artikel ini yang bermarga Pasek yang tertarik untuk melakukan wisata spiritual Tirta Yatra ke Pura Pasek yang ada di Jawa ini, berikut alamat detailnya: Pura Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Air Terjun Di Kabupaten Karanganyar

1. Air Terjun Gorojogan Sewu


Tempat wisata alam karanganyar Air Terjun Gorojogan Sewu
Air Terjun Gorojogan Sewu (foto : dhonikurniawan)

Wisata alam Air Terjun Grojogan Sewu merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 81 meteri, udara di sekitarnya sangat sejuk karena masih dikelilingi pepohonan besar yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun.
Memang wisata air terjun Grojogan Sewu ini termasuk dalam konsep ekowisata, yaitu wisata yang mengandalkan keindahan dan keaslian alam. Di sekitar air terjun juga masih banyak berkeliaran monyet liar sehingga suasana alam benar-benar dapat dirasakan.
Jika Anda berkunjung ke tempat ini, bukan hanya wisata alam saja yang bisa dinikmati. Anda juga bisa menikmati berbagai makanan khas seperti sate kelinci maupun sate ayam, juga beberapa permainan untuk anak, wisata belanja sayur-sayuran dan buah khas pegunungan. Selain itu Anda juga bisa berkeliling naik kuda di sekitar tempat ini.
Akses menuju Grojokan Sewu juga cukup mudah, tempat ini dapat dijangkau dengan mengendarai motor roda dua maupun mobil. Tak jauh dari Grojokan sewu juga terdapat beberapa obyek wisata alam lain di Kabupaten Karanganyar.

2. Air Terjun Jumog


Tempat wisata alam karanganyar Air Terjun jumog
Air Terjun jumog (foto : dhonikurniawan)

Air Terjun Jumog menjadi salah satu destinasi wisata alam Karanganyar yang cukup baru, tempat ini dibuka untuk umum sejak tahun 2004 lalu, terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Meski tempat ini belum sepopuler Air Terjun Grojokan Sewu, namun keindahan khas wisata alam masih sangat terasa di tempat ini.
Air terjun Jumog memiliki debit air yang tidak terlalu deras sebagaimana di Grojokan Sewu, justru karena itulah para pengunjung bisa bermain dibawah air terjun dengan aman sambil menikmati guyuran dinginnya air pegunungan.
Hingga saat ini obyek wisata alam Air Terjun Jumog masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Harga tiket untuk masuk di area ini juga murah, fasilitas cukup lengkap, dan terdapat area bermain dan kolam renang untuk anak-anak.
Akses menuju lokasi wisata alam Air Terjun Jumog juga cukup mudah. Jika Anda berangkat dari Kota Solo bisa meluncur ke arah Tawangmangu. Sebelum sampai Tawangmangu, di pertigaan selepas Pasar Karangpandan Anda bisa mengambil jalur ke kiri menuju Kecamatan Ngargoyoso. Pada ujung jalan masuk tersebut akan terlihat penunjuk jalan dan gapura yang menginformaskan tentang obyek wisata alam Air Terjun Jumog.

3. Air Terjun Pringgodani


tempat wisata alam karanganyar Air Terjun Pringgodani
Air Terjun Pringgodani (foto : dhonikurniawan)

Bagi Anda yang menyukai tantangan, mengunjungi Air Terjun Pringgodani bisa menjadi satu pengalaman yang menyenangkan. Untuk menjangkau lokasi ini memang tergolong sulit, pengunjung harus mau berjalan kaki melewati jalan setapak naik turun di pinggir tebing yang curam dengan jarak sekitar 1 km dari jalan raya. Tempat wisata alam Air Terjun Pringgondani ini tidak bisa di jangkau dengan kendaraan, terletak di Desa Blumbang, 4 km dari terminal bus Tawangmangu.
Meski medannya tergolong sulit, namu tempat ini masih sangat alami. Di tempat ini menawarkan keindahan air terjun 2 tingkat dengan ketinggian lebih dari 100 meter. Air Terjun Pringgondani ini jauh lebih tinggi dari pada Air Terjun Grojogan Sewu yang lebih dulu dikenal.
Selain air terjun Pringgondani, disekitar wilayah ini juga terdapat sebuah obyek wisata sejarah/Religi berupa pertapan berbentuk rumah joglo yang dijadikan sebagai tempat persembahyangan bagi penganut aliran kepercayaan. Tempat sakral ini dipercaya sebagai petilasan Eyang Cokronegoro, disebelahnya terdapat mata air bernama sendang pengantin yang terdiri dari tujuh kucuran air dari lereng bukit. Sendang itu sendiri berada di atas air terjun, dan tempat inilah yang biasa dikunjungi.
Hingga saat ini keberadaan Pertapan Pringgodani dan air terjunnya masih belum dikelola secara maksimal mengingat lokasinya yang jauh dari jalan raya dan kondisi medannya yang berat.

4. Air Terjun Parang Ijo


Tempat wisata alam karanganyar  Air Terjun Parang Ijo sukuhcom
Air Terjun Parang Ijo (foto: dhonikurniawan)

Obyek wisata alam Air Terjun Parang Ijo merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Karanganyar yang digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata andalan. Daerah wisata Parang Ijo ini terletak di Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso.
Keindahan dan pesona wisata yang berada di daerah perkebunan dan pertanian di lereng Gunung lawu ini hingga saat ini masih menarik para wisatawan. Tidak jauh dari tempat ini juga terdapat kompleks candi cetho di Kecamatan Ngargoyoso.
Berbagai fasilitas dan sarana akomodasi dibangun di tempat ini, beberpa sarana-prasarana wisata yang telah ada diantaranya adalah Gardu Pandang, area taman bermain, kolam renang dan juga warung penjaja makanan.

Rabu, 09 November 2016

ndoro dongker

Rumah Teh Ndoro Donker. Tempat Asik Untuk Minum Teh di Kaki Gunung Lawu

Friends Added

ndoro dongker
Teh adalah jenis minuman yang memiliki banyak penggemar. Teh disukai banyak orang karna minuman ini bisa dinikmati dalam kondisi apapun: dingin ataupun panas. Teh juga cocok untuk dijadikan teman ngobrol
Di Karanganyar, Jawa Tengah ada satu tempat seru yang sangat cocok untuk para penggemar teh. Namanya adalah Rumah Teh Ndoro Donker. Lokasi rumah teh ini berada di area Perkebunan Teh Kemuning serta kaki Gunung Lawu sehingga suasana minum teh di tempat ini benar-benar beda dari tempat lain
Dengan suasana yang sejuk khas pegunungan, Rumah Teh Ndoro Donker menjadi tempat nongkrong favorite mereka yang tinggal di Solo dan sekitarnya. Bahkan, tempat ini juga kerap dikunjungi oleh warga luar kota yang sedang liburan ke Solo atau Karangnyar. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mobil berplat asing yang parkir di area parkir Ndoro Donker
Ada berbagai jenis teh yang bisa dinikmati di Ndoro Dongker dengan harga yang relatif terjangkau. Beberapa jenis teh yang bisa dinikmati disana antara lain teh hijau kemuning, teh hitam donker, teh aroma Inggris (earl grey, cemomile, lady grey, mint, passion fruit ), teh raja, teh putih, dan teh herbal. Teh bisa disajikan dalam cangkir ataupun teko kecil
ndoro dongker 2
Sebagaimana kafe pada umumnya, Rumah Teh Ndoro Dongker tidak hanya menyediaka minuman. Di tempat ini juga tersedia berbagai menu makanan mulai dari makan berat seperti nasi goreng, sup iga, iga bakar hingga makanan ringan macam singkong goreng, bitterbalen dan sebagainya. Tempat minum teh pun bisa dipilih. Mau di ruangan ruangan terbuka atau di dalam rumah. Tinggal pilih sesuai selera
Suasana di Rumah Teh Ndoro Dongker ini cocok sekali untuk ngobrol serius maupun ngobrol santai. Misalnya untuk membicarakan bisnis bersama kolega atau ngobrol romantis berdua bersama dengan pasangan. Lokasi Rumah Teh Ndoro Dongker ini sangat mudah diakses karna berada di pinggir jalan raya ke arah Kebuh Teh Kemuning serta Candi Cetho
ndoro dongker 3
Yap, benar sekali. Jika kamu pernah berkunjung ke Candi Cetho dari arah Karang Pandan kamu akan melewati rumah teh yang sangat terkenal di Solo Raya ini. Bahkan tidak sedikit para pengunjung Candi Cetho yang menyempatkan diri mampir ke rumah teh ini
Jika ditempuh dari kota Solo, butuh waktu sekitar 1,5 jam naik kendaraan bermotor untuk bisa sampai ke Rumah Teh Ndoro Donker
Mengenai nama Ndoro Donker sendiri ada kaitannya dengan sejarah. Dulu ada seorang Belanda bernama Donker yang tinggal di Kemuning. Ia adalah ahli tanaman yang memilih hidup di desa untuk mengembangkan area perkebunan. Sedangkan kata “ndoro” dalam Bahasa Jawa artinya adalah tuan. Jadi, arti nama Ndoro Donker adalah tuan Donker

Paralayang Karanganyar


Terbang bak Burung di Atas Kebun Teh Kemuning Karanganyar, Seru Abis


Paralayang menjadi salah satu olahraga ekstrim yang bisa kamu cicipi saat berlibur di Kabupaten Karanganyar. Tak tanggung-tanggung, hamparan hijau kebun teh menjadi suguhan selama melayang-layang di udara. Deg-degan sudah pasti, tapi keseruannya itu tidak bisa dibeli. Setumpuk pengalaman bisa jadi bahan cerita sepulang bervakansi nanti.
Kebun Teh Kemuning, suatu destinasi wisata alam di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah yang tidak boleh absen kamu kunjungi. Lokasinya masuk di dalam wilayah desa Kemuning, kecamatan Ngargoyoso. Rute yang bisa diambil traveler yaitu arah menuju Gunung Lawu. yang memang daerah ini berada di lereng gunung tersebut.

Paralayang di Kebun Teh Kemuning, via instagram
Paralayang di Kebun Teh Kemuning, via instagram

Umumnya, Kebun Teh Kemuning menjadi tujuan favorit rekreasi keluarga. Hal ini didukung oleh suasananya yang nyaman dengan udara pegunungan yang sejuk plus hamparan kebun teh yang hijau menyegarkan mata. Karena lokasinya yang berada di lereng gunung sudah tentu punya rute yang ekstrim. Meski kondisi jalan cukup baik namun trek berliku dengan tanjakan dan turunan tajam serta dikombinasikan dengan banyak tikungan membuat perjalanan menuju ke sana terbilang menantang.
Video Player
00:00
00:12
Pertama pastikan dulu kendaraan yang dipakai cukup prima. Usahakan tidak memakai motor matic, itulah yang selalu disarankan pemandu wisata yang ada disana. Kebun Teh Kemuning cocok juga untuk destinasi wisata anak muda sebab di salah satu wilayahnya terdapat wahana olahraga ekstrim berupa paralayang buat pecinta tantangan.
Start awal Paralayang dilakukan di Bukit Paralayang, Desa Segoro, Gunung Kemuning. Tidak jauh kog dari kawasan perkebunan traveler bisa bertanya pada pemandu lokal untuk memberi tahu arah tersebut. Kalau mau mencicipi terbang tandem dengan instruktur profesional sebaiknya datang pada akhir pekan, kalau hari biasa traveler wajib melakukan pemesanan terlebih dahulu sebab mereka tidak selalu standby di lokasi.

Panorama Kebun Teh Kemuning, via instagram
Panorama Kebun Teh Kemuning, via instagram

harga perpaketnya cukup terjangkau, setiap traveler dipatok tarif sekitar Rp. 300 ribu untuk pemesanan minimal 4 orang. Mereka akan diajak terbang tandem selama 10-20 menit mengelilingi luasnya perkebunan teh yang hijau. Jangan lupa untuk membawa bekal kamera sport. Momen seperti itu sangat sayang jika tidak didokumentasikan.

Air Terjun Parang Ijo


Indahnya Wisata Air Terjun Parang Ijo di Karanganyar, Solo


Air Terjun Parang Ijo– Ingin yang baru ? ingin yang damai ? ingi yang sejuk ? ingin yang segar ?ingin pemandangan yag dapat menenteramkan hati sis ? Jawaban yang dapat admin berikan adalah mainlah ke kota solo dan menikmati obyek-obyek wisata alam yang ada di Solo dan sekitarnya. Di Solo banyak banget hlo obyek-obyek wisata alam untuk dijadikan sebagai bahan referensi rujukan. Diantaranya; Air Terjun Jumog, Air Terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, Kawasan wisata Tawangmangu, Kawasan Wisata Selo, Parang Ijo, dan masih banyak lagi sist.
Nah kali ini admin ingin berbagi artikel dulu dan mengajak sista untuk menikmati, uupZ membayagkan dulu deh ntar kalau sista luang baru main ke solo dan ke parang ijo, menikmati keindahan wisata alamnya ? benar kan, harus benar karena dijamin keindahan yang ada di Air Terjun Parang Ijo sangat kerenn abis, hingga saat admin pertama kali mengunjunginya wuihh nggak mau pulang ^_^. Karena pemandangan pas di bawah air terjun sangat menakjubkan, air terjunnya segar dan bersih, hingga membuat suasana menjadi dingin. Tak kalah keren pemandangan yang ada di sekitar Air Terjun Parang Ijo.parijo
Air Terjun Parang Ijo terletak di Lereng Gunung Lawu, dan memiliki ketinggian sekitar 50 m. Air Terjun Parang Ijo ini berjarak tempuh sekitar 20 menit dari komplek wisata candi Cetho. Berjarak sekitar 2 km dari pertigaan Ngloro. Sista dapat menempuhnya dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari pertigaan Nglorok ambil belokan ke kiri,ke arah Candi Cetho.  Selanjutnya ikutin jalan hingga tiba di lokasi air terjun berada.   Jalan menuju air terjun ini cukup sempit, sangat susah bila ada dua kendaraan berpapasan, berliku dan naik turun. Jadi sista juga harus hati-hati ^^
Nah,Bagi sista yang pengguna kendaraan umum dari kota Solo naik bis jurusan Tawangmangu atau Matesih dan turun di terminal Karang pandan.  Lalu di terminal ini berganti dengan bis kecil berwarna biru dengan trayek Karang Pandan – Ngargoyoso – Kerjo, turun di pertigaan Nglorok dengan ongkos Rp 2.000,-.  Perjalanan selanjutnya menempuh jalan beraspal sejauh sekitar 1,9 km hingga tiba di pos pemungutan restribusi,Perjalanan ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik ojek dengan tarif resmi dan terjangkau.
Dan setelah tiba di Air Terjun Parang Ijo, untuk masuk ke area wisata sista harus bayar tiket masuk, hanya Rp. 2500,- per orang kok
parjoFasilitas yang diberikan saat sista di Air Terjun Parang Ijo juga lumayan, sista dapat menikmati layanan berupa: Menara, area bermain anak dan dewasa, kolam renang yang dekat dengan air terjun serta rest area yang dilengkapi dengan warung penjaja makanan lengkap. Giaman ? menarik bukan, jangan lupa ya untuk mampir menikmati keindahan Air Terjun Parang Ijo. ^^

Grojokan semawar

Grojogan Sewawar

Siapa sangka ditengah hutan yang tenang, menyimpan keindahan yang sayang jika dilewatkan untuk dikunjungi. Sebuah grojogan yang tidak begitu tinggi namun suara aliran airnya mampu memecah kesunyian.
  • Jam Buka: Setiap hari
  • Tiket Masuk: Rp 3.000
  • Parkir Mobil: Rp 5.000
  • Parkir Motor: Rp 2.000
  • Updated: 25/02/2016
    
Sensasi Air Terjun Dipinggir Kebun nan Anggun
JIKA kemarin #JeJaKa sudah menjejakkan kaki di Grojogan Sedinding, kali ini giliran Grojogan Sewawar yang tak kalah asik untuk ditelusuri. Masih dilokasi yang sama dengan Gerojogan Sedinding, air terjun ini berada di bawahnya. Hanya saja ketika Anda berjalan menuju Gerojogan Sedinding akan mendapati dua jalan. Lurus mengarah Gerojogan Sedinding, sedangkan ke kanan dengan track menurun menuju Gerojogan Sewawar.
Perjalanan justru lebih singkat dibandingkan menuju Grojogan Sedinding. Cukup membutuhkan waktu 10 menit dari pintu masuk, Anda sudah akan sampai ke Grojogan Sewawar. Setelah berjalan menurun, terdapat tiga jalur untuk menuju ke Gerojogan Sewawar.
Jalur kanan dengan anak tangga yang dibuat secara manual, Anda akan langsung menuju bibir kolam air terjun. Sedikit naik, di jalur tengah merupakan jalan yang menuju langsung depan air terjun dengan melewati sebuah warung. Untuk jalur ketiga, adalah jalur untuk akses menuju langsung ke sebuah warung yang buka hanya pada Sabtu dan Minggu.
Berbeda dengan air terjun yang lain yang hanya memiliki satu jalur air jatuh, Grojogan Sewawar memiliki beberapa jalur yang dilewati aliran air. Bentuk dari Gerojogan Sewawar seperti bongkahan batu besar yang menutup sebuah aliran sungai sehingga terjadi air terjun tersebut.
Jika Grojogan Sedinding bisa dijadikan tempat untuk terjun ke dalam kolamnya, berbeda dengan di Grojogan ini, namun asiknya di Grojogan Sewawar, batuan yang menjadi jalur air terjun ini bisa dijadikan pijakan untuk memanjat ke atas grojogan. Bebatuan ini sama sekali tidak licin atau berlumut. Namun, jika ingin memanjat Anda harus memiliki peralatan yang aman selayaknya climbing dan keahlian khusus.
Grojogan Sewawar termasuk air terjun yang memiliki ketinggian cukup pendek, yaitu sekitar 15 meter. Air yang jatuh menghasilkan cipratan yang cukup deras dan sejuk bagi orang yang berdiri di sekeliling air terjun. Kedalaman kolam terbilang cukup dangkal, tetapi #JeJaKa masih bisa bermain air dengan leluasa.
Tak hanya menyajikan air terjun yang menawan, Grojogan Sewawar juga menghadirkan beberapa tanaman yang ada di ladang warga dan bisa dibeli untuk dibawa pulang ataupun dinikmati bersama ketika berkunjung kesana. Ladang ini terdapat diatas sebuah warung yang ditemui di bibir air terjun. Tanaman umbi-umbian mendominasi ladang warga, seperti pohon ketela, pohong, dan sukun.
Bagi pecinta palawija, didepan warung terdapat tanaman kunyit yang sengaja ditanami warga yang bisa dipesan untuk dibawa pulang. Gerojokan Sewawar memang dikenal cukup banyak tanaman. Baik palawija dan umbi-umbian, beberapa pohon buah, seperti manggis, jambu dan durian juga bertebaran disana. Menurut salah satu warga, jika Anda penggemar durian maka harus datang pada bulan November hingga Januari. So, jangan sampai terlewatkan untuk menghabiskan waktu liburan di Gerojogan Sewawar bersama #JeJaKa.